Lampung Tak Hanya Gajah

Sunday, August 22, 2010 12 komentar

Bumi Ruwa Jurai, begitu warga Lampung menasbihkan diri. Maknanya dalam bahasa setempat adalah satu bumi dua keturunan, menggambarkan komposisi penduduk asli Lampung yang terdiri dari Masyarakat adat Sai Batin yang tinggal di pesisir dengan Masyarakat adat Sai Pepadun yang tinggal di pedalaman.

Bicara soal potensi wisata, Lampung punya list wisata yang tidak sedikit. Mulai dari keelokan pantai, konservasi flora dan fauna dan juga situs-situs bersejarah.

Lima belas kilometer dari Bandar Lampung ke selatan ada Pantai Pasir Putih. Pantai ini memiliki kontur yang landai dengan aneka permainan anak. Lebih ke selatan lagi, menambah 30 km, bersisian dengan Pantai Merak Belantung ada resort yang dikembangkan Grup Bakrie, Krakatoa. Disini selain pantai nan bersih sudah terdapat penginapan eklusif berikut sarana bermain air dan pantai.

Ke selatan lagi, menuju kota Kalianda, ada persinggahan bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Gunung Krakatau. Namun mesti dicatat, untuk sampai ke Krakatau harus terlebih dahulu tahu jadwalanya. Adakalanya ketika gunung legendaris itu sangat aktif, pengunjung dilarang menyeberang ke sana.

Tak hendak ke pantai? Pilihan masuk akal tentunya mengunjungi Taman Nasional Way Kambas yang menjadikan Lampung di kenal dunia luar. Way Kambas terletak 112 km arah timur laut Bandarlampung. Anda bisa melihat arena konservasi gajah langsung di habitatnya berikut dengan atraksi gajah-gajah terlatih. Jika ke sini, sempatkan juga untuk mampir taman purbakala Pugung Raharjo.

Ibukota Lampung adalah Bandar Lampung. Kota ini merupakan penyatuan dua kota besar yang bertetangga, Tanjungkarang sebagai kota pemerintahan dan Teluk Betung sebagai kota bisnis. Oleh-oleh banyak terdapat di kedua kota tersebut. Ada kripik pisang, makanan khas dari durian, Tempoyak, empek-empek dan juga krupuk Kemplang Lampung.

Akomodasi di Bandarlampung cukup komplet. Tersedia hotel berbintang empat dari beberapa jaringan hotel ternama hingga hotel-hotel melati. Kehidupan malam Bandarlampung juga dinamik, yang terutama dipusatkan di bagian selatan kota, Teluk Betung.

Menjangkau Bandarlampung persoalan mudah. Letaknya di tengah jalur lintas Sumatera dan Jawa, membuatnya gampang ditempuh dari mana saja. Kalau dari Jakarta, berikut dengan penyebrangan membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 7 jam perjalanan. Selain itu, juga ada penerbangan reguler setiap hari dari Bandarlampung ke Jakarta.

Feodalisme Modern di Lampung

Wednesday, August 18, 2010 9 komentar

(ilustrasi lampung dan feodalisme)
SAYA pernah menuliskan betapa (masyarakat) adat Lampung telah dipolitisasi sedemikian rupa bagi kepentingan (politik) segelintir elite yang kebetulan sedang memegang jabatan di pemerintahan atau elite berkuasa, baik di pusat maupun di daerah Lampung sendiri (Media Indonesia, 23 Juni 2007).

Sebenarnya agak “sungkan” saya menuliskan kembali masalah ini. Namun, melihat fenomena bagaimana adok/adek (gelar adat) dengan mudah “diperjualbelikan” di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai, saya agak perlu memberikan catatan sedikit.
***
Setidaknya ada dua peristiwa “budaya” Lampung baru-baru ini yang penting saya soroti. Pertama, Gelaran budaya Begawi Adat Mewaghi (upacara mengangkat saudara) di Sesat Agung Nowo Balak Gunungsugih, Senin, 28 Juni 2010 lalu. Kabarnya, marga-marga dari Saibatin dan Pepadun bertemu pertama kali dalam begawi adat tersebut sebagai upaya pelestarian tradisi dan budaya asli daerah.

Pada Begawi Adat Mewaghi tersebut M. Hidayatullah gelar Suttan Kanjeng Penyimbang Sakti mengangkat Sapta Nirwandar dan Mudiyanto Thoyib sebagai saudara. Dirjen Promosi dan Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar pun diberi adok Suttan Jaya Negara Mega Sakti dan Bupati Lampung Tengah Mudiyanto ber-adok Suttan Pengiran Abdi Negara Mega Sakti.

Kedua, Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL)—dalam sebuah upacara “sakral” (?) penyerahan gelar adat di Mahan Agung, Sabtu, 24 Juli 2010—menjadikan Gubernur dan Ketua DPRD sebagai pimpinan adat tertinggi Lampung. Sebelumnya, marga adat menjadikan raja atau penyimbang adat sebagai pimpinan tertinggi.

Gelar adat yang disandang Gubernur Sjachroedin Z.P. yakni Kanjeng Yang Tuan Suntan Mangkunegara Junjungan Pemangku Sai Bumi Ruwa Jurai, sedangkan gelar adat Ketua DPRD Marwan Cik Asan yakni Pun Yang Tuan Suntan Pengetahuan Pemangku Sai Bumi Ruwa Jurai. Selain itu, Ketua MPAL Kadarsyah Irsya menyandang gelar adat Kanjeng Suntan Raja Pesirah Penata Adat Sai Bumi Ruwa Jurai.

***

Sebelum ini ada banyak pemberian gelar adat kepada pejabat berbagai kesempatan di berbagai tempat di Lampung. Entahlah, hari gini kok “berburu” gelar adat dan ada saja pihak yang mau “bagi-bagi” adok. Meskipun upacara pemberian adok itu mahal, segera saja tampak jika sesungguhnya adok itu sesungguhnya “diobral habis”.

Agak aneh bin ajaib kalau Ketua Majelis MPAL Kadarsyah Irsya mengatakan keputusan itu diambil 80 marga adat di Lampung dan gelar adat untuk Gubernur melekat pada jabatan dan diteruskan kepada penggantinya. “Jika Gubernur berganti, penggantinya juga diberikan gelar adat. Gubernur sekarang Sjachroedin Z.P. bergelar Ruwa Jurai I, penggantinya Kanjeng Yang Tuan Suntan Mangkunegara Junjungan Pemangku Sai Bumi Ruwai Jurai II, dan seterusnya,” kata Kadarsyah.

Lebih kacau lagi yang dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Gatot Hudi Utomo dalam sosialisasi Festival Krakatau XX di Balai Keratun, Selasa (1-6). Pemberian gelar kepada Gubernur melibatkan 734 orang pemangku adat. Acara budaya ini akan menjadi salah satu unggulan FK tahun 2010. Lampung ingin meniru acara budaya di Solo, sekatenan tumpeng raksasa.
***
Bagaimana bisa, upacara adat Lampung pemberian adok yang berlaku turun-temurun dengan “serampangan” dikatakan “Kita hendak meniru Solo”? Bagaimana mungkin, upacara penobatan pemimpin adat tertinggi hanya menjadi bagian—itu pun tempelan—dari sebuah festival? Mengapa acara “sakral” ini harus dijadikan sekadar komoditas pariwisata dan tidak ada hubungannya dengan upaya pemberdayaan kebudayaan (adat) Lampung sesungguhnya?
Banyak pertanyaan menggelayuti benak—tidak hanya—saya. Sehari sebelum pemberian adok kepada Sjachroedin, kecaman datang dari Ketua Dewan Perwakilan Penyimbang Adat Lampung (DPPAL) Maulana Raja Niti. Dia menilai pemberian adok adat tidak sesuai dengan tata cara adat Lampung. Pemberian gelar adat tak diberikan kepada sembarang orang dan jabatan semata karena gelar menunjukkan nilai luhur seseorang dalam keadatan Lampung. “Pemberian gelar bukan semata untuk mencari kepentingan. Pemberian gelar itu pun perlu penilaian dan harus mendapat persetujuan dari penyimbang adat,” kata Maulana Raja Niti.
Dalam tata keadatan Lampung, para penyimbang berpedoman pada Kuntara Raja Niti dan Kuntara Raja Sa sehingga pemberian gelar tidak diberikan secara sembarangan. Dia khawatir sikap para penyimbang yang memberikan gelar terlalu bebas akan membuat nilai-nilai luhur dari sebuah gelar justru tak memiliki sifat keluhurannya di masyarakat adat (Lampung Post, 24 Juli 2010).

Kritik berikutnya dari Novan Saliwa, aktivis Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Lampung Barat (IKPM Lambar), Yogyakarta, yang berasal dari lingkungan Negarabatin Liwa. Menurut Novan, terlalu mudah para penyimbang memberi gelar pada seseorang dengan mengatasnamakan seluruh Lampung. “Bagi masyarakat adat Saibatin, pimpinan tertinggi dalam adat hanyalah akan kami taruhkan pada lurus garis keturunan Umpu Saibatin. Gelaran atau adok dalom/suntan, raja, ratu, panggilan seperti pun dan sai batin serta nama lamban gedung (rumah adat/keraton) hanya untuk Saibatin Raja dan keluarganya, dan gelar itu dilarang dipakai oleh orang lain,” kata dia.

Dalam garis dan peraturan adat, kata Novan, tidak terdapat kemungkinan untuk membeli pangkat adat tertinggi, terutama di dataran Sekala Brak sebagai warisan resmi dari kerajaan Paksi Pak Sekala Brak asal mula peradaban Lampung. (Lampung Post, 27 Juli 2010).

Lalu, kritik ini dilengkapi Irfan Anshory, sai batin dari Talangpadang, Tanggamus, yang kini bermukim di Bandung, “Tidak ada dan memang tidak boleh ada yang mengklaim penyimbang seluruh Lampung. Masyarakat adat Lampung itu semacam federasi, yang masing-masing penyimbang dalam kelompoknya. Seorang penyimbang di kelompoknya tidak bisa menjadi penyimbang di kelompok yang lain.” Agak aneh juga, kata Irfan, di abad ke-21 ini, kok masih ada yang orang mau menjadi “penyimbang kemawasan“.

***

Jadi? Pemberian adok belakangan ini tidak lebih dari akal-akalan saja dari para “penjilat”. “Yang dijilat” pun senang-senang saja! Tujuannya, apalagi kalau bukan melanggengkan kekuasaan dengan “menunggangi” adat. Sungguh patut disayangkan adat dan masyarakat adat yang sebenarnya justru tidak diberdayakan sama sekali.

Sementara itu, MPAL (dulu: LMAL) sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai representasi dari masyarakat adat Lampung yang sebenarnya telah diwariskan secara turun-temurun. Keberadaan institusi itu adalah “politisasi adat” untuk merebut kekuasaan dan kemudian menjaga kelanggengan rezim yang berkuasa. Lihat saja pengurus MPAL yang diisi oleh pejabat/mantan pejabat atau orang-orang yang dekat (bisa juga mendekatkan diri) pada sumbu kekuasaan.

Kalau mau jujur, yang disebut penyimbang adat atau saibatin toh tidak otomatis memiliki jabatan di lembaga pemerintahan. Mereka ada di komunitas adat mereka masing-masing dan menjadi pemimpin dalam komunitas mereka itu. Jadi, memang agak susah seorang pejabat mengklaim diri sebagai pemimpin adat bagi seluruh masyarakat adat di Lampung.

Maka, bukan hal berlebihan jika ada yang menuding institusionalisasi masyarakat adat dalam wadah semacam MPAL atau nama lainnya sebagai sebuah upaya sentralisasi adat. Lihat saja, nanti MPAL membentuk cabang di kota/kabupaten, bahkan mungkin hingga kecamatan dan kelurahan/pekon. Dengan adanya MPAL, adat-istiadat seakan-akan dibuat formal atau dibakukan berdasarkan versi pengurus MPAL.

Padahal, sudah jelas dalam lambang Provinsi Lampung tertulis tentang “Sang Bumi Ruwa Jurai” sebagai pengakuan tidak mungkin adanya penyeragaman. Lampung itu kan multikultur. Etnis Lampung juga plural. Tafsir-tafsir tentang kebudayaan Lampung (adat-istiadat, kebiasaan, kesenian, cara-cara berbicara, pola tindakan, dan sebagainya) juga multitafsir. Heterogenitas ini kan harusnya dihormati. Jadi, biarlah kebudayaan Lampung tumbuh dengan pluralitasnya.


Ditulis Oleh Udo Z Karzi di weblog ulunlampung

Udo Z Karzi. Menulis buku Momentum (kumpulan sajak, 2002), Mak Dawah Mak Dibingi (kumpulan sajak, 2007), dan Mamak Kenut, Sketsa-Sketsa Negarabatin (insya Allah segera terbit). Punya blog antik: http://udozkarzi.blogspot.com karena susah dimengerti. Sesekali ngeblog juga di http://zulzet.multiply.com.

Menengok Geliat Kota Bandar Lampung

12 komentar

Menyusuri Kota Bandar Lampung, maka kita akan rasakan berada di lembah perbukitan. Kota lama yang berasal dari dua kota kecil yang terpisah yaitu Tanjung Karang dan Teluk Betung, seiring dengan pertumbuhan penduduk,  yang semula adalah kota kecil yang terpisah, kini telah menjadi satu tanpa batas dengan jumlah penduduk lebih dari 800.000 jiwa.

Kota Bandar Lampung yang sekarang adalah ibu kota Propinsi Lampung, keutara berbatas dengan Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Namun dalam perkembangannya, wilayah kecamatan Natar yang terdapat Bandara Raden Inten yang pada kenyataannya telah menyatu sebagai wilayah perkotaan.

Dalam kurun waktu kurang dari satu dasawarsa, pertama kali penulis mengusahakan sebuah pemukiman yang kecil, daerah batas kota yang masih sepi itu telah berubah menjadi kawasan pemukiman perkotaan baru. Tugu Raden Inten, yang merupakan titik pertemuan lalulintas dari seluruh Sumatra menuju P Jawa itu telah berubah menjadi sebuah simpul ekonomi sekaligus titik transit pengguna jasa transportasi umum kesegala penjuru wilayah Lampung. Akibatnya, titik pertemuan lalu lintas ini menjadi botlenect bagi kelancaran lalulintas. Kota seperti tumbuh tanpa perencanaan mengikuti dinamikan ekonomi yang berjalan secara alamiah. Ketika daerah berkembang, sesungguhnya merupakan keuntungan bagi pemerintah dengan menaikkan dari Pajak Bumi dan Bangunan. Sayangnya, daerah batas otoritas pemerintahan tersebut justru terabaikan karena masing2 otoritas wilayah pemerintahan tak menyentuh pembangunan agar lebih tertata.

Terminal induk yang berlokasi tak jauh dari Tugu raden Inten itu menjadi kurang berfungsi dan poslantas dua polrespun didirikan hanya berseberangan jalan seolah memang menyetujui perpindahan terminal induk itu. Perniagaan dan jasapun berkembang pesat, pedagang dan restoran, tempat penitipan kendaraan yang merupakan nadi perekonomian tersendiri tanpa sentuhan pemerintah.  Botleneckpun itu mempunyai arti lain, tempat itu sering dijadikan tempat pemeriksaan surat kendaraan bermotor.

Rencana jalan lingkar telah dibuat, telah dibebaskan tetapi mandeg ditengah jalan. Jalan arteri yang menhubungkan antar kabupaten adalah porsi pemerintah propinsi, agaknya pembangunan jalan itu ditinggalkan kanrena tidak terkait dengan rencana pemindahan pusat pemerintahan. Sesungguhnya, jika pusat pemerintahan itu dibangun di jalan ringroad yang sudah setengah jalan tersebut, manfaat pemindahan pusat perkantoran pemerintah lebih mempunyai arti bagi perkembangan perekonomian masyarakat Kota  Bandar Lampung.

Seperti kita tahu, bahwa propinsi lampung walaupun merupakan wilayah terdekat dengan pulau jawa yang relatif lebih maju, tetapi perkembangannya jauh tertinggal dari tetangganya itu. Sebagai produsen hasil pertanian, tidak dijumpai pusat perdagangan komoditasnya. Terminal induk rajabasa yang semakin sepi oleh karena banyaknya kendaraan umum yang pindah kesekitar Tugu Raden Inten, lebih cocok dijadikan pusat perdagagangan komoditas pertanian dan perkebunan. Demikian pula ringroad yang setengah jadi itu, jika diselesaikan akan menjadi pusat perdagangan jalur barat yang artinya akan menahan aliran lalu lintas mengarah pada titik pertemuan lalu lintas regional di Tugu Raden Inten.


Teluk Betung Dilihat dari Bukit
Kearah Bandara, jika kita lihat adalah daerah persawahan, pembangunan pusat pemerintahan di Kota kecamatan Natar, lambat laun akan mengalihkan fungsi persawahan menjadi pemukiman dan lebih jauh lagi akan mendesak Bandara Raden Inten. Banyak kerugiannya dibanding manfaatnya bagi perekonomian masyarakat.  Barangkali perlu dipikirkan lagi, perencanaan tata kota tidak perlu mengorbankan yang sudah terbangun sebab biaya yang diperlukan untuk pengorbanan tersebut lebih efektif digunakan untuk membangun wilayah lain yang belum terbangun.

Agaknya Pemprov menjadikan wilayah itu sebagai daerah idaman juga, setelah dibangunnya flyover di Natar untuk mengatasi kemacetan, kemacetan yang saat ini sering terjadi di Tugu Raden Inten, bukan menjadi masalah buat Pemprov yang ingin memindahkan pusat pemerintahan di jalur itu, mengorbankan tanaman sawit yang berfungsi sebagai paru2 kota atau menggeser bandara bukanlah menjadi persoalan.

Dengan melihat wilayah perkotaan termasuk kecamatan Natar, jika disatukan maka penduduk wilayah perkotaan akan mencapai 1 juta jiwa. Peran Pemprov yang diharapkan dapat mengkoordinator para otoritas wilayah, dengan melihat lokasi pemindahan ibukota propinsi tersebut, pada dasarnya arah pembangunan perkotaan yang ada masih bersifat proyek tanpa kajian daya dukung yang memadai.

Sebuah perkotaan yang sehat adalah kota yang memperhatikan polusi baik polusi tanah, air dan udara. Kemacetan lalu lintas adalah sumber polusi udara, rencana pemindahan pusat pemerintahan pada jalur padat tersebut jelas tanpa pertimbangan kepadatan lalu lintas. Mestinya Pemprov lampung melakukan kajian ulang, pusat pemerintahan dapat digunakan sebagai pemecah mobilisasi masyarakat agar tidak bermuara pada satu titik.

Seperti halnya juga pemkot, daerah yang diperlukan sebagai konservasi air telah berubah menjadi daerah pemukiman. Kota Bandar lampung jika dilihat dari topografinya merupakan daerah tangkapan air, tak heran pada akhirnya akan sama problemnya dengan kota2 lain yaitu banjir.  Jalan yang rusak dalam musim penghujan adalah pemandangan yang umum. Namun bisa terjadi ketimpangan pembangunan apabila masing2 pemegang otoritas wilayah hanya memikirkan menaikkan PBB tanpa diimbangi koordinasi dan pihak terkait.

Perkembangan kota tidak terlepas perkembangan ekonomi, majunya sebuah kota tidak terlepas dari geliat ekonominya. Bandar Lampung sebagai pusat pemerintahan, juga sebagai pusat perekonomian wilayah lampung. Jika melihat dari potensi ekonominya, sesungguhnya kota ini dapat menjadi pusat perdagangan wilayah sumbagsel. Namun, sarana dan prasarana penjunjang sebagai pusat komoditas wilayah, perdagangan masih dikuasai oleh panjang mata rantai perdagangan yang panjang yang pada akhirnya menuju pedagang besar. Mungkin perlu dibuat sentra perdagangan komoditas untuk memperpendek mata rantai melalui penyediaan sarana dan sarananya untuk meningkatkan penghasilan para petani produsen.  Penyediaan sarana dan sarana tersebut tentunya akan meningkatkan juga penghasilan pemerintah dari sektor retribusinya.

Hampir diseluruh kota di Indonesia, penghasilan utama pemerintah daerah masih pada pendapatan dari pajak bumi dan bangunan yang merupakan sektor pasif. Penentuan dilakukan dengan tarif, makin tinggi nilai pasar makin tinggi pajak ditentukan. Sedangkan pendapatan dari sektor produktif seperti hasil perkebunan dan pertanian, secara tehnis hanya mengarah pada pedagang besar dan pemungutan pada kendaraan niaga pengangkut barang, tidak melihat apakah membawa muatan atau tidak.

Seruit, Makanan Tradisional yang Eksklusif

16 komentar

Mendengar judul di atas, mungkin membuat pembaca agak heran. Jangankan pernah mencicipi, pernah dengar tentang makanan inipun tidak pernah. Ya, oleh karena itu saya katakan “eksklusif” karena hanya orang Lampung saja yang tau makanan ini. Sangat jarang orang yang bukan suku Lampung mengenalnya.
Sebenarnya Seruit atau Kalau lidah orang lampung sering menyebutnya “seruwit”, adalah makanan khas orang Lampung. Yang uniknya dari makanan ini adalah, diracik ketika akan di makan dan harus habis saat itu juga. Dan tentu saja, makannya harus pakai nasi.

Cara makannya pun unik, Seruwit yang sudah jadi (dalam satu wadah) di makan bersama-sama. Caranya, kucuk kikim (daun singkong rebus) diambil secukupnya, lalu dicocol kedalam seruwit. Setelah itu, ditaruh pada sesuap nasi, dan Hap,, langsung dimakan. Biasanya, sambil mengunyah didalam mulut, lalapan mentah juga ikut dimakan berbarengan. Dan Rasanya, benar2 luar biasa sensasinya.

Saya sebagai orang Lampung terkadang sangat merindukan momen nyeruwit ini. Terus terang, seruwit memang seru. Kenapa, karena pada saat inilah biasanya sekeluarga bahkan sekeluarga besar berkumpul. Duduk di tikar besar bersama dan makan bersama. atau Terkadang pula, berkumpul bersama teman-teman sambil nyeruwit.

Oleh karena itu, dapat saya katakan nyeruwit berarti kebersamaan. Bagi orang Lampung nyeruwit mungkin bisa dianalogikan dengan upacara minum teh di Jepang. meskipun tidak sesakral upacara minum teh di Jepang. Tapi inilah salah satu kebudayaan yang tiada duanya di dunia.

Tapi sayangnya, lagi-lagi pemerintah tidak pernah melihat ini. Menurut saya, kalau pemerintah, terutama Pemda mau peduli, Seruwit dan acara Nyeruwit mungkin bisa menjadi aset wisata unggulan. Coba kalau misalkan diadakan “Festival Seruwit”. Ha ha ha, pasti Seru!”

Selain bisa memperkenalkan kebudayaan lokal, dengan diadakannya acara-acara seperti itu, juga merupakan sarana untuk mempertahankan kebudayaan yang entah sampai kapan bisa bertahan. Memang hari ini masih banyak keluarga-keluarga Lampung yang masih mempertahankan Tradisi seruwit, tapi bagaimana 10 atau 20 tahun lagi? kenal seruwit pun tidak lagi barangkali.

Mengapa Seruit Kurang dikenal?

Mengapa seruwit Lampung tidak terkenal dan kalah pamor sama kemplang atau keripik? banyak sekali faktor yang menyebabkan seperti itu.

Seruwit adalah makanan yang tidak awet, sehingga untuk dijadikan oleh-oleh keluar daerah tidak mungkin. Sedangkan kemplang, setiap anak-anak Lampung yang keluar daerah, habis pulang kampung, biasanya bawa oleh-oleh kemplang atau keripik untuk teman-temannya. Itulah yang membuat kemplang atau keripik terkenal dibanding seruwit.

Seruwit kasusnya sama dengan gudeg di Jogjakarta, sama-sama tak awet, tapi gudeg lebih terkenal.

Seruwit akan terkenal jika:

Yang Pertama, Di Lampung ada banyak warung yang menawarkan masakan khas Lampung, sehingga setiap pelancong yang datang, akan mencicipi seruit, dan lambat laun seruit Lampung akan terkenal. Sekarang kenyataannya dapat kita lihat, di BandarLampung sendiri sangat sulit menemukan warung khas Lampung. Yang ada adalah Masakan Minang, Wong Jowo, Warung Pempek. Lapo Tuak. Belum pernah saya lihat ada “Kedai Seruwit”.

Terkadang Saya sulit membayangkan, pelancong jauh-jauh dari Padang ke Lampung hanya untuk makan Rendang Padang. Atau orang Jawa jauh-jauh menyeberang hanya untuk makan Soto, Sate, Pecel. atau Orang Palembang ke Lampung Untuk makan empek-empek Palembang. Sama Sekali Tiada kesan untuk kulinernya. Karena bagaimanapun Lebih Enak makanan di tempat Sumber Asalnya.
Yang kedua, Ada warung-warung makanan khas Lampung diluar daerah, misal di DIY, DKI, Tangerang, Surabaya, Medan dan lain-lain, yang menawarkan seruit. Sehingga seruit juga akan terkenal didaerah-daerah tersebut.

Sekarang, pernahkah kita melihat warung-warung atau rumah makan seperti yang saya katakan diatas? tentu belum atau jarang. Itulah yang buat seruwit tak terkenal.

Dan Yang Terakhir, Seruit adalah makanan “Eksklusif”. Hanya orang Lampung Saja yang mau melakukannya. Selama ini Kalaupun ada orang Non Lampung yang ikut nyeruwit, itu karena dia berada ditengah-tengah komunitas Lampung. Seruwit akan terkenal jika bisa dilakukan oleh orang-orang Non Lampung. Namun Seruwit berbeda dari Rendang, pempek, Soto dll. Kalau kita mau buat Rendang, Bisa kita catat resepnya dan kita praktikkan di rumah. Sedangkan Seruwit? kita bisa catat resepnya namun untuk mempraktekkannya tentu sangat sulit bagi orang NonLampung. Semua itu karena Seruwit bukan sekedar Makanan, namun Ia adalah bagian dari Tradisi dan Kebudayaan. Yang sangat sulit dipraktikkan pada orang selain Lampung.

Namun Bagaimanpun Juga, Seruwit sebagai makanan maupun tradisi merupakan tanggung jawab kita semua untuk menjaganya. Memang, sekarang kita tidak menganggapnya Penting, dan kita tidak peduli. Tapi haruskah ada negara lain yang Mengklaim Seruit baru mata kita bisa terbuka. Saya Rasa itu bukan pemikiran yang bijak.

Cara Membuat Seruwit
Dari tadi, bicara tentang seruwit , tapi seruwit itu apa sih? mungkin teman-teman yang bukan suku Lampung agak bingung. Ini dia Seruwit:
Bahan-Bahan Seruwit:
-Ikan (Bisa Goreng atau Panggang. Ikannya ikan Patin, Mas atau Baung. Ikan lain juga Boleh, tergantung selera. Tapi saran Saya, ikan yang sudah saya sebutkan itulah yang enak)
- Sambal Terasi
- Terong ungu Panggang
-Limau Kunci (bisa diganti Kedondong hutan)
- Isi Timun
- Tempoyak
- Garam (kalau kurang asin)
-Air Secukupnya
Lalap rebus:
-Daun Singkong Rebus (bisa diganti daun Pepaya, kangkung atau bayem)
Lalap Mentah:
-Timun
-Jengkol (Bisa diganti Petai)
- Pucuk daun Jambu Mente
- Kacang Panjang
-Jinar (Sejenis Jahe)
-Wortel
-Kemangi
Cara Meracik :
Semua Bahan Seruit di campur dalam satu wadah. Diaduk dengan Tangan bersih.
Cara makan
Sudah dijelaskan Diatas. 

picture dicomot dari yenisfamilyblog.multiply.com

Ditulis Oleh Yuza Riadi di Kompasiana
Pemilik blog ini lahir di Kotabumi, 11 mei 1990. Sekolah dasar nya diselesaikan di SDN 02 Ketapang. SMP nya di tempuh di SMPN 01 Sungkai Selatan dan SMA nya ditamatkan dari SMAN 2 Kotabumi. Saat ini blogger yang memiliki hobi menulis ini sedang berjuang untuk menyelesaikan S1 nya di Jurusan Teknik Geofisika Unila. InsyaAllah jika semua lancar tahun 2011 bisa selesai. Mohon doanya. mau berhubungan: Blog: duniayuza.blogspot.com #twitter: @adiyuza #email/fb: yuza_riyadi57@yahoo.co.id

Cari Ta'jilan di Bandar Lampung, ke Jl ZA Pagar Alam Saja

Saturday, August 14, 2010 1 komentar

Ramadhan datang dengan penuh keberkahan, semua umat Islam menyambutnya dengan penuh suka cita. Pun tak kalah meriahnya di bandarlampung, tepatnya dikawasan pendidikan jalan Zaenal Abidin Pagar Alam tanpa disengaja menjadi pusat jajanan untuk berbuka puasa.

Sore itu sekitar satu jam menjelang Adzan Maghrib, beberapa kendaraan mulai memadati jalan yang disepanjang trotoarnya dipenuhi penjual minuman dan makanan untuk berbuka. Seperti sudah disetting menjadi pusat jajanan, kerumunan penjual tak kalah ramai dengan pengunjung yang berdatangan dari setiap sudut kota.

Bulan Puasa memang memberikan keberkahan tersendiri bagi para pedagang, baik yang musiman maupun yang sudah terbiasa mangkal ditrotoar jalan dari lampu merah unila sampe lampu merah arah jalur dua way halim.

Bagi anda yang kebetulan belum mempersiapkan makanan dan minuman untuk berbuka, tak ada salahnya menuju tempat tersebut, tersedia berbagai pilihan mulai dari es kelapa muda, es campur, sop buah, kolak, dsb. Makanan pembuka juga lengkap mulai goreng2an, jagung bakar, sampe kelas berat semisal nasi sayur dan makanan lengkap sudah tersedia disana.

Komunitas Narablog di Lampung Seruit.Com hadiri Silaturahmi XL & Blogger

2 komentar

Komunitas Blogger Lampung (seruit.com) hadir dalam Ajang Silaturahmi Xl dan Bloggers di Hotel Gumaya Floor 5 Red Wood, Semarang 7 agustus 2010.

Hadir para narablog dari berbagai kota sepanjang Lampung sampai surabaya seperti : Seruit.com (lampung), Kopdar Jakarta, beblog (bekasi), depok, BBV (bandung), blogger Ngalam (malang), TPC (surabaya), loenpia (semarang), gresik dan lain lain.

Acara ini juga merupakan rangkaian dari pestablogger 2010 yg disupport penuh oleh sebuah provider Nasional XL yang dalam hal ini mengadakan XL network rally sepanjang Lampung -  Semarang dan Surabaya - semarang dengan melibatkan 140 Blogger dan 50 Media cetak+elektronik.

 
LAMPUNG GECH © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets